Salah satu isi buku karya Soe Hok Gie berjudul “Catatan Seorang Demonstran” menceritakan kehidupan Soekarno di antara para wanita. “Aku dapat membayangkan betapa kotornya hidup perkelaminan di sini (Istana Presiden),” tulis Soe Hok Gie. Soe Hok Gie melihat sekretaris pribadi Soekarno di Istana Negara berkebaya ketat dengan buah dada
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta ," ujar Soe Hok Gie dalam puisinya berjudul "Mandalawangi-Pangrango" yang ditulis tahun 1966. Keindahan dan kekaguman Soe Hok-Gie tergambarkan lewat puisinya. Dalam puisinya, Soe Hok-Gie tercatat dua kali mengucapkan "Aku cinta padamu, Pangrango". Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango, Jawa Barat
Tidak seperti Mira Lesmana yang telah "mengenal" sosok Soe Hok Gie sejak dua puluh satu tahun yang lalu, saya baru mendengar namanya saja setelah film "Gie" diputar di bioskop nasional.Waktu itu, jujur saja, yang membuat saya begitu bersemangat menonton Gie ini karena aktor pemeran utamanya, Nicholas Saputra.Gie (paggilan Soe Hok Gie) hidup dalam dilematika politik yang menjerumuskannya pada pendakian, kegemarannya dalam memeluk keindahan semesta lewat pendakian ke gunung-gunung yang memesona di Jawa. Soe Hok Gie merupakan tokoh mahasiswa yang aktif menyuarakan hak-hak rakyat. Ia juga aktif dalam pers dan organisasi pergerakan kemahasiswaan.
Ruang tersebut bernama Museum Taman Prasasti. Di sinilah makam Soe Hok Gie dan patung wanita menangis berada.Museum Taman Prasasti merupakan museum yang menyimpan nisan-nisan dari zaman Belanda. Pada tahun 1977, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, meresmikan museum ini yang dahulunya bernama Kebon Jahe Kober. Sayangnya, Soe Hok Gie meninggal di usia yang relatif muda pada 16 Desember 1969, hanya beberapa jam sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Soe Hok Gie meninggal di puncak Gunung Semeru, gunung .